Sebagai salah satu rujukan makanan khas Yogya adalah Bakpia, Salah
satunya adalah Bakpia Kumbu Putih Pak Dhiyat, Berikut artikelnya dari
koran merapi..
KESULITAN biaya, memaksa Giyat (52) berhenti sekolah dan hanya
mendapatkan ijazah SD. Ia lantas masuk di dunia kerja dengan menjadi
karyawan di perusahaan bakpia ternama di Yogyakarta. Berkat ketelatenan
dan keuletannya, Giyat berhasil mandiri dan menjadi pengusaha bakpia
yang cukup ternama.
Di usianya yang masih sangat belia, Giyat terpaksa menjadi buruh di
perusahaan bakpia. Dengan gaji yang tak seberapa, lelaki kelahiran
Wonosari ini bekerja keras setiap hari. Dari sanalah, Giyat belajar
bagaimana cara membuat bakpia, yang hingga kini masih menjadi oleh-oleh
utama khas Yogya.
”Dari kecil, saya memang suka menabung. Gaji yang tak seberapa itu,
lantas saya kumpulkan dan saya belikan emas. Saya masih ingat betul,
emas yang semula hanya 5 gram, terus bertambah hingga menjadi 25 gram,”
terang Giyat kepada Merapi di kediamannya belum lama ini.
Tahun 1985, Giyat memutuskan keluar dari pekerjaan dan berupaya untuk
memproduksi bakpia sendiri. Selain uang simpanannya, Giyat juga mendapat
pesangon dari perusahaan tempatnya bekerja. Uang tersebut, lantas
digunakan untuk menyewa rumah bambu, membeli peralatan dan bahan sebagai
modalnya membuat bakpia.
”Dari awal, saya memang sudah mengutamakan kualitas. Bahan-bahan yang
saya gunakan, selalu kualitas nomor satu, karena bagi saya, membuat
bakpia tidak boleh sembarangan. Agar rasa yang dihasilkan juga
istimewa,” ujar Giyat yang lantas memberikan nama Dhiyat untuk bakpia
produksinya.
Pemasaran yang dilakoni Giyat tidaklah mudah. Suami Tusiyem (38) ini
harus keliling hingga luar kota untuk menyetorkan bakpianya ke toko
oleh-oleh ternama di wilayah sekitar seperti Purworejo, Muntilan dan
Magelang dengan menggunakan motor. Di luar dugaan, bakpia buatannya
diterima pasar dengan baik. Pesanan datang terus menerus dari banyak
pelanggan, sehingga Giyat memutuskan berhenti keliling tahun 1989. Ayah
Nila Subekti, Yusuf Darmanjati dan Anjani Devi Fatullah ini lantas
membuka pesanan di kediamannya, Keparakan Lor MG 1 RT 43/09 Yogya.
Bakpia dengan label Dhiyat tersebut kini sudah tersohor di seluruh
wilayah di Indonesia.
”Tahun 1995, usaha kami sempat merosot akibat adanya oknum penjual
oleh-oleh yang menggunakan bahan tidak berkualitas, sehingga pembeli
takut. Saya bahkan harus menghentikan semua karyawan karena sepi
pesanan,” keluhnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tak berlangsung lama. Giyat selalu
meminta pembeli mencicipi terlebih dahulu agar mengetahui rasanya.
Lambat laun, pesanan kembali mengalir hingga usaha bakpianya pulih.
Sedikitnya, 500 kotak bakpia mampu ia produksi setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar